Pembuat Konten Dihimbau Gunakan Sejarah Korea

sageukdramas

Masyarakat Korea sangat bangga akan sejarah negara mereka yang berumur 5000 tahun. Namun seberapa baik mereka menggunakan sejarah sebagai konten untuk menciptakan cerita?

Tentu saja ada film yang sukses menggunakannya seperti “The Admiral: Roaring Currents”. Namun ada banyak film dan drama yang berdasar pada sejarah justru gagal menuai kesuksesan. Ada banyak juga film atau drama yang mendistorsi sejarah dan mengundang kontroversi dari para penonton dan sejarahwan.

Di sisi lain, taman wisata bertema sejarah di Korea secara umum tidak begitu sukses. Pemasaran ke turis asing menjadi pilihan utama, namun program-program umum seperti mencoba hanbok atau menonton pertunjukan berjalan di atas tali adalah program terbaik yang bisa mereka tawarkan.

Untuk mengubah hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata bekerjasama untuk menggelar konferensi internasional untuk orang-orang di industri konten dan media Kamis lalu (27/11) di Museum Nasional Korea di Distrik Yongsan, Seoul.

Bertajuk “Humanistic Spirit and Traditional Resource for Creation: Classics, Blooming into Story”, konferensi tersebut dikontrol oleh lima badan yang berhubungan dengan studi Korea, termasuk National Institute of Korean History dan Northeast Asian History Foundation.

Dalam program satu hari terebut, para ahli di bidangnya memberi ceramah untuk memperkenalkan cara mengubah fakta sejarah, catatan kuno, cerita rakyat dan warisan budaya atau tradisi menjadi konten yang sukses meraih profit.

Diantara penceramah itu ada Erwan de la Villeon, project manager taman bertema sejarah di Prancis bernama Puy du Fou. Dalam wawancara dengan Korea JoongAng Daily, dia berkata kunci menggunakan konten sejarah dengan sukses adalah berinteraksi dengan orang-orang.

“Penting untuk menciptakan aktivitas untuk orang-orang. Puy du Fou menawarkan pertunjukan ditambah restoran, hotel, showroom untuk seniman, dan toko-toko,” dia berkata. “Dengan hiburan interaktif, (taman bertema sejarah) bukan lagi sebuah museum melainkan sebuah tempat tinggal.”

Peserta konferensi yang lain, produser Gigi T. Yoon juga berkomentar bahwa Korea hanya berfokus pada era tertentu – misalnya, penjajahan Jepang (1910-1945) – ketika membuat film, drama atau novel sejarah.

Orang-orang yang tertarik dengan studi Korea di luar negeri sebenarnya sangat tertarik dengan era lain dalam sejarah Korea juga,” katanya. “Contohnya Dinasti Goryeo (918-1392) atau era Penyatuan Silla (676-935).”

sageukdramas2

“Empress Ki” dan “Queen Seondeok”, dua drama yang berlatarbelakang Kerajaan Goryeo dan Silla

Menurutnya, walaupun mencari sudut pandang lain dan twist untuk periode atau sejarah yang sudah biasa juga penting, namun pembuat konten Korea juga perlu mencari inspirasi baru.